RSS
people

Berpikir Cukup Sekali Dalam Setahun

Oleh: Gagan Kartika

“Mengalihkan pikiran yang rutinitas, menjadi berpikir setahun sekali, merupakan cara menghemat berpikir. Sehingga kita bisa berpikir menjadi lebih produktif “.

Banyak sekali yang kita pikirkan, sehingga kepala jadi pusing. Apa apa terlalu dipikirkan serius, sampai kepala keliyengan. Dan otak kita penuh dengan berbagai sampah masalah.

Padahal masalahnya sederhana, tapi kok mikirnya terlalu berat. Memang saya merasakan, setiap orang, punya tingkatan masalah berbeda-beda, tapi ada yang dipikirkan terlalu berat, dan ada dengan biasa-biasa saja. Sehingga yang satu dengan masalah sederhana menjadi berat, sementara yang lain, masalah berat, namun mengatasinya dengan enteng-enteng saja. Perbedaan penanganan ini, disebabkan dari cara kita dalam menghemat berpikir. Bagi yang berpikir berat, masalah itu akan berlarut-larut, sebaliknya bagi yang sederhana, masalah akan cepat terselesaikan.

Saya ambil contoh, kejadian yang terjadi pada satu keluarga. Dimana kehidupan keluarga itu miskin, sehingga dengan kemiskinan tersebut, setiap anggota keluarga berusaha mendapatkan penghasilan dengan berbagai macam cara. Ketika anaknya ada yang kawin. Mereka bersyukur, karena beban keluarga sudah mulai berkurang. Anaknya, bisa lepas dan hibup bersama suami. read more »

No Comments |

Contoh Judul Penelitian Tindakan Kelas

PROPOSAL PENELITIAN TINDAKAN KELAS/PTK
1. PROP. PENELITIAN UPAYA MENINGKATKAN GAIRAH BELAJAR SISWA DALAM PEMBELAJARAN IPS DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA GAMBAR - 04

2. PROP. PENELITIAN TINDAKAN. KELAS UPAYA MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA SD MELALUI PERANAN HADIAH SEBAGAI PERANGSANG TIMBULNYA KOMPETENSI – 03

3. PROP. PENELITIAN TINDAKAN KELAS UPAYA MENINGKATKAN KEDISPLINAN SISWA MELALUI PENERAPAN HUKUMAN - 01

4. PROP. PENELITIAN UPAYA MEMINIMALKAN MISKONSEPSI DAN MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP-KONSEP IPA MELALUI PEMBELAJARAN KONSTRUKTIVISTIK BAGI SISWA KELAS IV SD - 03

5. PROP. PENELITIAN UPAYA MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR IPA SI SD DENGAN PENDEKATAN KETRAMPILAN PROSES - 04

6. PROP. PENELITIAN UPAYA MENGATASI KESULITAN BELAJAR MELALLUI PEMBERIAN BIMBINGAN BELAJAR DI SD WANAGIRI KAB. KULON PROGO YK - 04

7. PROP. PENELITIAN PENINGKATAN KEDISPLINAN SISWA MELALUI KETELADANAN GURU SD NEGERI PRAWIROTAMAN - 01

8. PROP. PENELITIAN T. KELAS UPAYA MENINGKATKAN PEMAHAMAN MATA PELAJARAN IPA MELALUI PEMBELAJARAN

9. PROP. PENELITIAN PENGARUH PERILAKU ANAK YANG MENYIMPANG TERHADAP KEBERHASILAN PROSES PEMBELAJARAN DI SDN DUKUH II YK PADA MURID KELAS I CAWU 2 TH PELAJARAN 2001/2002 – 01 read more »

No Comments |

SEKOLAH YANG EFEKTIF DAN BERKEMBANG

Dr. Aria Jalil
(Konsultan QA pada Proyek Pertuasan dan Peningkatan Mutu SLTP Jakarta)

PENDAHULUAN

Saya mulai uraian ini dengan mengetengahkan apa makna pendidikan atau “education”. Asal-usul kata “education” adalah “educo”, yang mengandung makna: “to lead out; to take out with one to one’s province; to bring out a ship from the haibour; to put to sea; to assist at birth; to nourish and support” (Lewis & Short Latin Dictionary).

Dikaitkan dengan peran seorang guru, maka guru dilukiskan sebagai pemimpin, pembimbing, pendorong, pembantu, bidan, pemelihara, dan pendukung.

Menjadi guru masa kini perlu memberi bentuk baru dalam hubungannya dengan anak didiknya, yaitu dan bentuk “power relationship” ke bentuk “shared relationship”, yaitu dari posisi mengontrol ke posisi kerjasama. lsu yang kritikal dalam pendidikan bukan lagi bagaimana agar guru mampu mengontrol kelasnya, tetapi bagaimana agar anak didik kita terlibat langsung atau aktif dalam pern belajaran.

Prinsip ini mengingatkan kita bahwa seorang anak didik hanya tertarik untuk ikut aktif dalam pembelajaran jika pengajaran itu relevan. Pengajaran hanya akan relevan jika dihubungkan dengan konteks sosial dimana anak didik itu berada. Siswa aktif dalam konteks sosial yang relevan merupakan empat kata kunci sebagai bekal anak didik dalam menghadapi “rapid pervasive change” atau perubahan yang merembes dan meluber amat cepat dan “increasing interconnectedness” atau meningkatnya saling keterkaitan antar lembaga, individu, masyarakat, dan bahkan antar negara.

Inilah beberapa kiat bagaimana sebaiknya seorang guru bersikap dan bertindak, agar anak didiknya terlibat aktif secara konstruktif dalam proses pembelajaran. Dengan kata lain bagaimana agar terjadi “effective instruction” atau pengajaran yang efektif (Townsed & Otero, 1999).

1) Pembelajaran teqadi pada puncaknya jika ekspektasi atau harapan dipusatkan pada keberhasilan.

2) Rasa takut bukanlah pemicu belajar yang efektif

3) Perubahan harus diyakini sebagai sesuatu yang selalu mungkin dicapai.

4) Kontrol hanyalah suatu ilusi.

5) Saling tergantung atau “interdependensi merupakan kunci menuju sukses.

Di antara lima kiat di atas, saya akan memberikan penjelasan tambahan pada kiat pertama yaitu yang berkaitan dengan “ekspektasi”, karena kata ekspektasi memuat konsep yang sangat penting di dalam pembelajaran.

Colin Rogers (2002) mengungkapkan, selama sekitar 30 tahun, psikologi sosial pendidikan tak henti-hentinya menempatkan “teacher expectation” (harapan guru) sebagai pemegang peran yang sentral. Para peneliti yang memusatkan permasalahan penelitian mereka pada isu “sekolah yang efektif dan berkembang”, mengamati “ekspektasi” sebagai kunci pendidikan dan pengajaran yang efektif. read more »

No Comments |

IMPLEMENTASI PENELITIAN TINDAKAN KELAS

Oleh: Prof. Dra. Herawati Susilo, M.Sc., Ph.D. dan Dr. Kisyani Laksono

Penelitian Tindakan Kelas (PTK) memiliki potensi yang sangat besar untuk meningkatkan pembelajaran apabila diimplementasikan dengan baik dan benar. Diimplementasikan dengan baik di sini berarti pihak yang terlibat (dosen dan guru) mencoba dengan sadar mengembangkan kemampuan dalam mendeteksi dan memecahkan masalah-masalah pendidikan dan pembelajaran melalui tindakan bermakna yang diperhitungkan dapat memecahkan masalah atau memperbaiki situasi dan kemudian secara cermat mengamati pelaksanaannya untuk mengukur tingkat keberhasilannya. Diimplementasikan dengan benar berarti sesuai dengan kaidah-kaidah penelitian tindakan.

Makalah ini membahas bagaimana implementasi penelitian tindakan kelas untuk peningkatan kualitas pembelajaran yang mencakup diagnosis dan penetapan masalah yang ingin diselesaikan, bentuk dan skenario tindakan, pengembangan instrumen untuk mengukur kebehasilan tindakan, serta prosedur analisis dan interpretasi data penelitian.

A. Diagnosis dan Penetapan Masalah

Masalah PTK yang merupakan penelitian kolaborasi antara dosen dan guru di sekolah hendaknya berasal dari persoalan-persoalan praktis yang dihadapi guru di kelas. Oleh karena itu, diagnosis masalah hendaknya tidak dilakukan oleh dosen lalu “ditawarkan” kepada guru untuk dipecahkan tetapi sebaiknya dilakukan bersama-sama oleh dosen dan guru. Pada kenyataannya dosen dapat mengajak guru untuk berkolaborasi melakukan PTK dan menanyakan masalah-masalah apa yang dihadapi guru yang mungkin dapat diteliti melalui PTK. Guru yang telah berpengalaman melakukan penelitian tindakan kelas mungkin dapat langsung mengatakan permasalahan yang dihadapinya yang mungkin dapat diteliti bersama dan kemudian membahas masalah tersebut dengan dosen. read more »

No Comments |

Pendekatan dalam Pengelolaan Kelas

Pengelolaan kelas bukanlah masalah yang berdiri sendiri, tetapi terkait dengan berbagai faktor. Permasalahan anak didik adalah faktor utama yang dilakukan guru tidak lain adalah untuk meningkatkan kegairahan siswa baik secara berkelompok maupun secara individual.

Keharmonisan hubungan guru dan anak didik, tingginya kerjasama diantara siswa tersimpul dalam bentuk interaksi. Lahirnya interaksi yang optimal bergantung dari pendekatan yang guru lakukan dalam rangka pengelolaan kelas.(Djamarah 2006:179)
Berbagai pendekatan tersebut adalah seperti dalam uraian berikut:

a. Pendekatan Kekuasaan
Pengelolaan kelas diartikan sebagai suatu proses untuk mengontrol tingkah laku anak didik. Peranan guru disini adalah menciptakan dan mempertahankan situasi disiplin dalam kelas. Kedisiplinan adalah kekuatan yang menuntut kepada anak didik untuk mentaatinya. Di dalamnya ada kekuasaan dan norma yang mengikat untuk ditaati anggota kelas. Melalui kekuasaan dalam bentuk norma itu guru mendekatinya.

b. Pendekatan Ancaman
Dari pendekatan ancaman atau intimidasi ini, pengelolaan kelas adalah juga sebagai suatu proses untuk mengontrol tingkah laku anak didik. Tetapi dalam mengontrol tingkah laku anak didik dilakukan dengan cara memberi ancaman, misalnya melarang, ejekan, sindiran, dan memaksa.

c. Pendekatan Kebebasan
Pengelolaan diartikan secara suatu proses untuk membantu anak didik agar merasa bebas untuk mengerjakan sesuatu kapan saja dan dimana saja. Peranan guru adalah mengusahakan semaksimal mungkin kebebasan anak didik.

d. Pendekatan Resep
Pendekatan resep (cook book) ini dilakukan dengan memberi satu daftar yang dapat menggambarkan apa yang harus dan apa yang tidak boleh dikerjakan oleh guru dalam mereaksi semua masalah atau situasi yang terjadi di kelas. Dalam daftar itu digambarkan tahap demi tahap apa yang harus dikerjakan oleh guru. Peranan guru hanyalah mengikuti petunjuk seperti yang tertulis dalam resep.

e. Pendekatan Pengajaran
Pendekatan ini didasarkan atas suatu anggapan bahwa dalam suatu perencanaan dan pelaksanaan akan mencegah munculnya masalah tingkah laku anak didik, dan memecahkan masalah itu bila tidak bisa dicegah. Pendekatan ini menganjurkan tingkah laku guru dalam mengajar untuk mencegah dan menghentikan tingkah laku anak didik yang kurang baik. Peranan guru adalah merencanakan dan mengimplementasikan pelajaran yang baik.

f. Pendekatan Perubahan Tingkah Laku
Sesuai dengan namanya, pengelolaan kelas diartikan sebagai suatu proses untuk mengubah tingkah laku anak didik. Peranan guru adalah mengembangkan tingkah laku anak didik yang baik, dan mencegah tingkah laku yang kurang baik. Pendekatan berdasarkan perubahan tingkah laku (behavior modification approach) ini bertolak dari sudut pandangan psikologi behavioral.
Program atau kegiatan yang yang mengakibatkan timbulnya tingkah laku yang kurang baik, harus diusahakan menghindarinya sebagai penguatan negatif yang pada suatu saat akan hilang dari tingkah laku siswa atau guru yang menjadi anggota kelasnya. Untuk itu, menurut pendekatan tingkah laku yang baik atau positif harus dirangsang dengan memberikan pujian atau hadiah yang menimbulkan perasaan senang atau puas. Sebaliknya, tingkah laku yang kurang baik dalam melaksanakan program kelas diberi sanksi atau hukuman yang akan menimbulkan perasaan tidak puas dan pada gilirannya tingkah laku tersebut akan dihindari.

g. Pendekatan Sosio-Emosional
Pendekatan sosio-emosional akan tercapai secarta maksimal apabila hubungan antar pribadi yang baik berkembang di dalam kelas. Hubungan tersebut meliputi hubungan antara guru dan siswa serta hubungan antar siswa. Didalam hal ini guru merupakan kunci pengembangan hubungan tersebut. Oleh karena itu seharusnya guru mengembangkan iklim kelas yang baik melalui pemeliharaan hubungan antar pribadi di kelas. Untuk terrciptanya hubungan guru dengan siswa yang positif, sikap mengerti dan sikap ngayomi atau sikap melindungi.

h. Pendekatan Kerja Kelompok
Dalam pendekatan in, peran guru adalah mendorong perkembangan dan kerja sama kelompok. Pengelolaan kelas dengan proses kelompok memerlukan kemampuan guru untuk menciptakan kondisi-kondisi yang memungkinkan kelompok menjadi kelompok yang produktif, dan selain itu guru harus pula dapat menjaga kondisi itu agar tetap baik. Untuk menjaga kondisi kelas tersebut guru harus dapat mempertahankan semangat yang tinggi, mengatasi konflik, dan mengurangi masalah-masalah pengelolaan.

i. Pendekatan Elektis atau Pluralistik
Pendekatan elektis (electic approach) ini menekankan pada potensialitas, kreatifitas, dabn inisiatif wali atau guru kelas dalam memilih berbagai pendekatan tersebut berdasarkan situasi yang dihadapinya. Penggunaan pendekatan itu dalam suatu situasi mungkin dipergunakan salah satu dan dalam situasi lain mungkin harus mengkombinasikan dan atau ketiga pendekatan tersebut. Pendekatan elektis disebut juga pendekatan pluralistik, yaitu pengelolaan kelas yang berusaha menggunakan berbagai macam pendekatan yang memiliki potensi untuk dapat menciptakan dan mempertahankan suatu kondisi memungkinkan proses belajar mengajar berjalan efektif dan efisien. Guru memilih dan menggabungkan secara bebas pendekatan tersebut sesuai dengan kemampuan dan selama maksud dan penggunaannnya untuk pengelolaan kelas disini adalah suatu set (rumpun) kegiatan guru untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi kelas yang memberi kemungkinan proses belajar mengajar berjalan secara efektif dan efisien.

  • #fullpost{display:inline;}Sumber : http://sekolah-dasar.blogspot.com/2009/02/pendekatan-dalam-pengelolaan-kelas.html
  • No Comments |